002 | Bintang Jatuh Hingga Embun Pagi

5:30:00 PM

"Awalnya Supernova ini adalah hadiah dari Dee dewasa kepada Dee kecil, karena Dee kecil sempat punya impian untuk melihat buku ciptaannya ada di toko buku. Saya ingin mewujudkan keinginan Dee kecil."

Sebetulnya pas tau akan ada event tentang serial Supernova yang terakhir Intelegensi Embun Pagi ini, saya sebenernya pasrah aja karena saya nggak bisa ngebayangin betapa panjang antrian on the spot nya. Tetapi karena satu dan lain hal, ternyata saya dikasih kesempatan untuk menghadiri acara yang bertajuk 15 Tahun Supernova: Bintang Jatuh Hingga Embun Pagi di Galeri Indonesia Kaya.


Konsep acaranya tuh lebih mengarah ke semacam "napak tilas" serial Supernova sendiri yang dimulai dari tahun 2001. Dan sejujurnya kalo nggak dateng ke event ini pun saya nggak akan tahu fakta-fakta menarik dibalik serial Supernova itu sendiri. Seperti contohnya pas mau launching Kesatria, Putri, Bintang Jatuh (KPBJ) pas tahun 2001. Ceritanya waktu itu Dee ke penerbit, dan ngumpulin uang sendiri untuk biaya percetakan. Lalu Dee pun bertanya, "Saya punya uang sekian, kira-kira bisa cetak berapa banyak, ya?" Lalu orang percetakan nya bilang, "Ya, kira-kira 5000 buku". Lalu tercetak lah buku KPBJ sebanyak 5000 eksemplar. Abis itu, kenalannya Dee (saya lupa entah itu publicist nya atau apanyaaaa gitu) bilang, "Hah, cetak 5000 buku? Penulis best seller (pada era 2001) aja maksimal 3000 eksemplar per tahun!". Nah loh. Terus buku sebanyak itu mau diapain, dong? Akhirnya yaudah, dibagi-bagiin ke wartawan. Sama dibikin KPBJ versi murahnya. Waktu itu harganya Rp.17.500,- saja.



Lalu juga, ada video taping tentang orang-orang yang menginspirasi Dee dalam setiap novel nya. Dan saya cukup shock ketika saya bisa melihat darimana inspirasi sosok Bodhi itu berasal. Saya sampai betul-betul nggak sempat ingat namanya dan saya langsung nggak fokus ketika saya harus mengabadikan sosok inspirasi Bodhi ini dari big screen di Galeri Indonesia kaya. It's truly because Bodhi is my favourite character. Dan dengan melihat orang ini, saya merasa sosok Bodhi itu begitu hidup. Dan saya terdiam beberapa saat di momen itu.

Kembali ke acara utama, acaranya diisi dengan pembacaan narasi singkat setiap buku dilanjutkan dengan lagu yang masih sinkron dengan narasi singkat. Seperti setelah narasi singkat Partikel dibacakan, Dee melantunkan lagu "Ayah", sesuai dengan narasi singkat Partikel yang membahas hubungan Zarah dan Ayahnya. Pembacaan narasi dibacakan oleh Chicco Jericho, Joko Anwar, Amanda Zevannya, Dinda Kanya Dewi dan Dee sendiri. Lalu ada Arina Moka, Reza Gunawan dan lainnya sebagai pengisi musiknya. Keren banget! Tim musikal nya Mas Reza, 2 orang rekannya bagus banget. Dan ini kali ke-dua saya menonton penampilan live kolaborasi suami istri ini, dan masih tetap suka banget dengan cara mempresentasikan musik mereka. Adem banget.



Terus juga di ruang pameran Galeri Indonesia Kaya, juga dibuat pameran kecil tentang Supernova itu sendiri. Ada manuskrip original dari Supernova KPBJ sampai Gelombang, ada cetakan pertama dari masing-masing buku. Dan ada laptop yang digunakan Dee ketika Dee menulis novel-novel nya. Dari jaman laptop nya tebel, lalu transformasi ke iBook, sampai Macbook Air. Dan ada juga pemetaan cerita di setiap buku yang digantung di pojok pameran mini tersebut.

Jadi ya... Begitu. Ada baiknya jika sebuah awal memiliki akhir; begitu kata Dee. Supernova ini pun ditutup, tetapi kemungkinan ceritanya berkembang pun masih bisa banget. Karena katanya, ending di IEP ini pun masih bisa dikembangkan sesuai imajinasi. Tapi karena sampai review ini saya tulis pun saya belum menyelesaikan bukunya; but soon I will. Jadi semoga buku ini menjadi kejutan sendiri untuk saya nantinya.

You Might Also Like

0 comments